Nyebar Godhong Kara . . .

Resan Gunungkidul

"gegandhengan-rerentengan gugur-gunung sambat-sinambatan" menjaga dan melestarikan "resan" (pohon penjaga), sumber-air (kali, sendang-sumber, beji, sumur, telaga dan keluarganya), gunung-goa, satwa, serta unsur kebumian dan ilmu pengetahuan Gunungkidul lainnya
SALAM-RESAN SALAM-LESTARI!

BATHIK

“Mbathik” atau membatik adalah kerja menggambarkan unsur-unsur alam pada ruang kosong yang sangat luas (“amba”). Kerja “mbathik” merupakan kegiatan penciptaan seni bathik untuk ‘mendekati’ pola unsur-unsur alam (tumbuhan, hewan, hutan, awan, sungai, gunung, goa, dan seterusnya) dan kemudian menggambarkannya pada mori. Kerja ini seperti memindahkan semesta (‘jagad gedhe’) ke sebuah bingkai (‘jagad cilik’). Dengan teknik “thik thik” (atau pelan-pelan), “mbathik” mencoba menitikkan tanda matra (“thithik”) pada ruang kosong, kemudian merangkainya menjadi garis kompleks, kemudian membentuk bidang, kemudian melahirkan bidang lebih kompleks, begitu seterusnya tiada akhir hingga memenuhi ruang kosong (mori). Meskipun, keagungan atau kerayaan sebuah titik tak sebanding dengan keagungan garis, garis dengan bidang, bidang dengan bidang-bidang, apalagi bidang-bidang dihadapkan dengan kerayaan ruang alam raya, namun si pembathik tetap “thak-thik” atau “thik-thik” bekerja “saktitahe” sedikit demi sedikit untuk menggambarkan, mengatakan, dan merasakan alam raya itu seperti apa dan bagaimana, menghidupkan dan menjaganya dengan “thik”: nyala api.

Bathik, dengan demikian, adalah buah dari kerja “mbathik”. Bathik tentu saja perlambangan “thik”: gerak terus menerus si canthing, malam, dan warna (layaknya detik jarum jam) yang menyusuri mori: luasnya jagad tak bertepi.

Bathik Resan Gunungkidul berupa gambaran-gambaran unsur alam yang dekat dengan diri dan gagasannya, bayi dan daun bodhi di tengah lingkungan alamnya.

Rahayua!

_/\_