Nyebar Godhong Kara . . .

Resan Gunungkidul

"gegandhengan-rerentengan gugur-gunung sambat-sinambatan" menjaga dan melestarikan "resan" (pohon penjaga), sumber-air (kali, sendang-sumber, beji, sumur, telaga dan keluarganya), gunung-goa, satwa, serta unsur kebumian dan ilmu pengetahuan Gunungkidul lainnya
SALAM-RESAN SALAM-LESTARI!

GUGUR-GUNUNG

Resan Gunungkidul sering menggunakan untaian gugur-gunung nandur resan dalam berkegiatan. Resan Gunungkidul memilih kata ‘resan’ karena dalam khasanah kebudayaan Gunungkidul ‘resan’ menduduki posisi strategis di tengah kehidupan bebrayan masyarakat. Resan, yang bermakna bendawi: penjaga, yang diturunkan dari akar reksa dan sejajar dengan pembentukan kata kerja: ngreksa (menjaga), memang menjaga kehidupan masyarakat. Resan merujuk juga pada wreksa yang berarti pohon, atau wreksan yang berarti pepohonan. Dialek-harian menurunkan wreksan menjadi resan. Pohon ‘resan’ khas Gunungkidul, seperti klumpit, klampok, bulu, dan lainnya, melindungi sumber air dan lahan yang berada di lingkungan sekitarnya. Menjaga kelestarian ‘resan’ dan lingkungan serta kelangsungan hidup masyarakat, satu-satunya cara, barangkali, adalah dengan gugur-gunung sambat-sinambatan.

Frase metaforis “gugur gunung” dalam kebudayaan Jawa terasa pas dipilih oleh Resan Gunungkidul untuk sekedar membahasakan gambaran kerja bersama, baik sesama Gunungkidul maupun dengan non-Gunungkidul. Kami, yang terdiri dari orang-orang desa berlatar aneka bidang seperti petani, perupa, pemusik, penulis, pegawai pamong-praja, pewarta, “pendongkel”, pedagang, pemburu, pemancing, juru peta, juru warta, petani, dan lain sebagainya, pada akhirnya akan bekerja-bersama dengan Anda dan Anda dan Anda semua untuk bagaimana klungsu-klungsu angger udhu (berperan serta) mewujudkan pranata lingkungan yang menurut ‘mimpi’ kita lebih harmonis.

Gugur-gunung yang secara genetik dan generik, merupakan artefak bahasa, adat-tradisi, personalitas, prasasti, impian-kuno, bahkan impian-futuris bahwa dalam kerja besar nan berat “menggugurkan sebuah kemahaan gunung” (pekerjaan besar), menuntut kebersamaan dan kesatuan berbagai pihak baik benda-hidup maupun benda-mati, baik material ataupun non-material. Gugur-gunung adalah konsep bernegara dan bermasyarakat: semua golongan golong-gilig saiyeg saeka praya bekerja-bersama berusaha merampungkannya. Jelas, karena gugur-gunung adalah warisan kebudayaan Nusantara, maka di dalamnya tak akan ditemukan konsep “imbalan”. Gugur-gunung adalah pengerahan orang-orang untuk bekerja menyelesaikan sesuatu tanpa imbalan. Yang namanya “gugur”, tentu ada yang jatuh, ada yang ambruk. Yang jatuh dan yang ambruk, harapannya, adalah kondisi “tidak-lancar”nya distribusi air (terstigma sebagai kekeringan dan kekurangan) dan terganggunya siklus air di tiga zona (karena alih fungsi lahan, kematian sumber-sumber air dan kali-kalenan, dan sebagainya).

Para anggota Resan Gunungkidul (Resaners) yang terdiri dari komunitas-komunitas lokal yang tersebar di berbagai dusun/kalurahan/kapanewon di Gunungkidul (dan bahkan non-lokal Gunungkidul) mencoba untuk secara konsisten dan kontinyu melaksanakan “gugur-gunung” dalam kerja berat pemulihan dan pelestarian lahan dan sumber air (kali, sendang, beji, tuk, goa, gunung, telaga, dll.) di Bumi Gunungkidul, dari penyiapan bibit hingga penanaman dan perawatan, berpedoman pada strategi kebudayaan yang dimiliki, diyakini, lantas dilaksanakan saktitahe untuk menggapai mimpi: “Gunungkidul Ijo Royo-royo”.

Berikut ini beberapa contoh kegiatan gugur-gunung yang telah dilakukan oleh Resan Gunungkidul:

  • Laku penyulaman resan (pohon pelindung) yang terintegrasi dengan upacara suci siklik (bulanan) bertajuk “Midang” di Siraman Wonosari Gunungkidul;
  • Kegiatan gugur-gunung membersihkan sumber air yang “mati” bersinergi dengan ‘stakeholder’ masyarakat dan pemerintah bertajuk “Amerti Warih” di Banaran Playen Gunungkidul;
  • Melakukan konservasi daerah tangkapan air hujan di sekitar embung di Gunung Batur di Kapanewon Karangmojo; mengembalikan nama ‘dusun’ yang berhubungan dengan sejarah kelahiran dusun;

Kegiatan pembuatan media-tanam dan pupuk-organik di Menggoran Bleberan Playen Gunungkidul;

Morfologi permukaan Gunungkidul didominasi gunung-gunung. Menggugurkan gunung “mis-manajemen kekeringan” dan “kematian sumber air” di Gunungkidul niscaya dapat tergapai dengan kerja-sama tanpa lelah serta bahu-membahu antar semua unsur kehidupan; tentu dengan morfem yang Resan Gunungkidul pilih dan yang diwariskan oleh leluhur bernama: gugur-gunung.

Rahayua Dhaksinarga! Rahayua Ardikidul! Rahayua Gunungkidul!

_/\_