Nyebar Godhong Kara . . .

Resan Gunungkidul

"gegandhengan-rerentengan gugur-gunung sambat-sinambatan" menjaga dan melestarikan "resan" (pohon penjaga), sumber-air (kali, sendang-sumber, beji, sumur, telaga dan keluarganya), gunung-goa, satwa, serta unsur kebumian dan ilmu pengetahuan Gunungkidul lainnya
SALAM-RESAN SALAM-LESTARI!

Mengembalikan Konsep Resan ke Habitatnya

Spesies-kunci (keystone species) memiliki manfaat ekologis seperti: mempertahankan sumber air, menjaga kestabilan unsur hara, meminimalkan erosi dan tanah longsor, serta mengurangi efek disturbansi (kerusakan) saat terjadi bencana alam

Resan: sebuah kata yang identik dengan pohon besar, rimbun, dan tua. Di bawahnya terdapat sesajen mulai dari bunga tujuh rupa, makanan, dan asap dupa yang terbakar. Di dalam kehidupan masyarakat lokal banyak ditemukan mitos dan cerita ‘mistis’ mengenai resan-resan yang tersebar di daerahnya. Tidak jarang resan menjadi media bagi manusia untuk berbuat syirik seperti meminta jodoh, pengasihan, kekayaan, hingga ilmu kanuragan. 

Resan dan Sesajian (foto:dn)

Secara etimologi resan diturunkan dari kata dasar ‘reksa’ yang dalam Bahasa Jawa memiliki arti ‘rangkul’. Dalam ilmu biologi, pohon-pohon besar yang memiliki tajuk lebar dan menjadi habitat bagi flora-fauna serta memberikan manfaat besar bagi lingkungan sekitarnya disebut keystone species atau spesies-kunci. Spesies kunci memiliki manfaat ekologis seperti: mempertahankan sumber air, menjaga kestabilan unsur hara, meminimalkan erosi dan tanah longsor, serta mengurangi efek disturbansi (kerusakan) pada saat terjadi bencana alam. Dengan kata lain, pohon besar ini ‘merangkul’ seluruh bagian ekosistem agar tetap terjaga keseimbangan dan kelestariannya. 

Pohon-pohon besar yang dalam budaya Jawa dimuliakan sebagai resan perlu kita-lihat dari sisi peran ekologisnya. Dalam hal ini, resan bukanlah suatu hal yang melulu mistis, melainkan sebuah konsep ilmiah untuk menjelaskan peran pohon besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Konsep ini perlu kita-sampaikan kepada generasi penerus agar tatkala memandang pohon besar bukan hanya pada hal-hal yang ‘mistis’ saja melainkan juga memandangnya sebagai ‘klenik’ yang bersifat ilmiah dan logis.

Resan juga identik dengan ‘sesuatu’ yang tinggal’ di dalamnya dan disebut sebagai ‘baureksa’. Baureksa disimbolkan oleh masyarakat sekitar dengan bermacam-macam wujud seperti: raksasa, kakek tua, manusia bertubuh ular, atau perempuan yang buruk rupa atau sangat cantik. Baureksa, apabila kita pahami secara etimologis Jawa, berasal dari kata ‘bau’ yang berarti energi dan ‘reksa’ yang berarti merangkul. Perwujudan yang disampaikan masyarakat adalah sebuah simbolisasi peran pohon besar itu sendiri. Contohnya, baureksa yang berwujud perempuan merupakan simbolisasi seorang ‘ibu’ yang memberikan kehidupan; perwujudan seorang lelaki tua merupakan simbolisasi bahwa suatu resan masih kokoh berdiri meskipun sudah berumur ratusan tahun; perwujudan perempuan bertubuh ular menyimbolkan sebuah sumber kehidupan (mata air) sebagai habitat bagi ular ‘kanca tani’; dan masih banyak perwujudan beserta simbolisasi lainnya. Hal ini perlu kita pahami karena budaya Jawa sangat terkait erat dengan simbolisasi berupa penggunaan ‘sanepan’ di dalamnya.

Resan Pasar Bedoyo (foto:dn)

Resan dan Baureksa bukanlah sesuatu yang harus dikaitkan dengan budaya animisme dan dinamisme apalagi dengan konsep mistis dan musyrik. Resan dan baureksa sangat erat kaitannya dengan konsep keystone spesies dalam ekosistem. Tidak semua spesies dapat menjadi spesies kunci dalam ekosistem. Banyak faktor yang menentukan sebuah spesies dapat menjadi spesies kunci di lingkungannya. Dalam hal ini budaya Jawa telah memberikan salah satu kearifan lokal mengenai penentuan sebuah pohon menjadi spesies kunci dalam lingkungannya baik secara ekosentris (sudut pandang ekosistem) maupun secara anthroposentris (sudut pandang manusia). Sayangnya, banyak masyarakat yang masih memandang resan sebagai sesuatu yang hanya mistis saja, tidak melihat perannya sebagai habitat flora-fauna lain, pelindung sumber air, penjaga tanah dari erosi dan longsor, atau pelindung manusia dari bencana alam. Memang benar, sebagian besar masyarakat masih memandang sesajen pada resan hanya sebuah ritual belaka, bukan sebagai jembatan penghubung antara manusia dengan alam agar tercipta hubungan yang harmonis.

[oleh Edi Guano]

Tinggalkan Balasan