Nyebar Godhong Kara . . .

Resan Gunungkidul

"gegandhengan-rerentengan gugur-gunung sambat-sinambatan" menjaga dan melestarikan "resan" (pohon penjaga), sumber-air (kali, sendang-sumber, beji, sumur, telaga dan keluarganya), gunung-goa, satwa, serta unsur kebumian dan ilmu pengetahuan Gunungkidul lainnya
SALAM-RESAN SALAM-LESTARI!
Rumah Bibit Resan

Rumah Bibit Resan: Salah Satu Bentuk Konsistensi Gerakan Konservasi di Bumi Handayani

Alon ning terus. Semangat sedulur! Saka niat dadi tekad, saka tekad dadi ikhtiar. Saka ikhtiar muga manfaat. Sak anane sing penting semangate

Pada bulan April wilayah Gunungkidul telah memasuki masa peralihan musim hujan ke musim  kemarau (pancaroba). Hal ini ditandai dengan intensitas turunnya hujan yang sudah mulai berkurang.  Seperti biasanya, musim kemarau akan terjadi mulai bulan April sampai dengan Oktober.  Kegiatan menanam oleh masyarakat Gunungkidul  khususnya Komunitas Resan Gunungkidul yang mengandalkan air hujan untuk sementara ditunda hingga datangnya musim penghujan. Hal ini dikarenakan bibit resan yang telah ditanam membutuhkan air, sedangkan ketersediaan air di musim kemarau kurang mecukupi untuk menyirami tanaman. Namun, upaya menghijaukan Bumi Handayani tetap konsisten dilakukan oleh Komunitas Resan Gunungkidul dengan mendirikan Rumah Bibit Resan (RBR) secara swadaya. Beberapa di antaranya telah terwujud di Kedungpoh Lor Nglipar, Tanjung Playen, Kepek Playen, dan Seneng Wonosari.

Selain untuk menjaga konsistensi gerakan konservasi di wilayah Gunungkidul, Komunitas Resan Gunungkidul setidaknya memiliki beberapa alasan lain sehingga melahirkan RBR di beberapa tempat, yakni:

  • Cakupan wilayah Gunungkidul yang sangat luas serta masih banyaknya lahan kritis seperti daerah aliran sungai, area sumber-sumber air yang telah mati,  daerah tangkapan air hujan dan area  lainnya masih membutuhkan bibit resan yang sangat banyak untuk penanaman pada musim tanam berikutnya;
  • Ketersediaan bibit resan  masih sedikit dan selama ini lebih banyak mengandalkan sumbangan dari berbagai elemen masyarakat.;
  • Semakin terbangunnya kesadaran masyarakat untuk menanam resan, ditandai oleh banyaknya dukungan dari berbagai elemen masyarakat yang mulai bergabung dan membentuk komunitas-komunitas resan baru di berbagai wilayah;
  • Pohon-pohon resan asli Gunungkidul mulai langka dan hilang. Padahal pohon-pohon  resan yang sudah mulai langka sebenarnya mudah tumbuh sebagai  tanaman penjaga sumber air. Banyak sumber air mati seiring matinya pohon-pohon resan karena kurangnya perawatan dan bahkan penebangan tak bertanggung-jawab.
  • Banyak nama-nama tempat di Gunungkidul berasal dari nama-nama pohon resan seperti Dusun Kepuhsari, yang menurut cerita dari nama pohon kepuh yang dahulu hidup di wilayah itu. Namun sekarang pohon tersebut sudah tidak dapat ditemui di dusun itu. Sejarah desa dan dusun di Gunungkidul banyak menyimpan cerita keberadaan pohon besar sebagai saksi hidup berdirinya sebuah entitas desa dan dusun, namun seringkali saksi hidup berupa pohon resan diabaikan bahkan  sengaja dihilangkan.

Dari beberapa alasan di atas,  pendirian RBR memiliki tujuan, yaitu:

  • Menjamin ketersediaan bibit resan yang cukup untuk kegiatan penananam di masa-masa mendatang  secara mandiri dengan tidak menutup bantuan bibit dari berbagai elemen masyarakat;
  • Menumbuhkan dan memperbanyak kembali pohon-pohon resan yang sudah mulai langka bahkan hilang dengan cara stek, pindah bibit, dan semai biji;
  • Sebagai media pembelajaran bagi anggota komunitas. Pendirian RBR yang dilakukan secara swadaya dan swakelola mendorong semakin meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan anggota dalam memperbanyak bibit resan;
  • Sebagai media untuk meningkatkan solidaritas, gotong-royong, dan kebersamaan anggota Komunitas Resan Gunungkidul  setelah lahirnya kesadaran gerakan konservasi.

Pendirian RBR dilaksanakan secara swadaya dan swakelola oleh komunitas-komunitas resan yang tersebar di beberapa wilayah Gunungkidul. Swadaya dan swakelola dalam hal ini berupa pengadaan alat, bahan-bahan, penyemaian, sampai perawatan diupayakan sendiri oleh komunitas secara bergotong-royong. Bibit-bibit resan disemai dan dipelihara sampai pada masanya kelak bibit siap ditanam. Bibit-bibit nantinya akan ditanam untuk merehabilitasi lahan-lahan kritis di wilayah Gunungkidul. Kegiatan pendirian RBR telah dimulai sejak awal April 2021 dan sejauh ini sudah mendirikan 6 (enam) rumah bibit resan. Pendiriannya akan terus dilakukan di beberapa tempat. Tri Marsudi, Dukuh Kedungpoh,Kalurahan Nglipar sebagai salah satu pendiri Resan Gunungkidul menginisiasi berdirinya RBR perdana.

Menyusul RBR kedua yang berdiri di samping rumah Anjar, di Kalurahan Banyusoca, Kapenewon Playen. RBR ketiga pun berdiri di sebelah rumah Komandan Resan Gunungkidul, Edi Supadmo di Dusun Tanjung I, Kalurahan Bleberan, Kapanewon Playen. Sedangkan RBR keempat didirikan di pekarangan rumah Mahmudi, Dusun Seneng, Kalurahan Siraman, Kapanewon Wonosari. Dua RBR lainnya juga telah didirikan oleh Purno Jayusman di Dusun Kampung Kalurahan Kampung Kapanewon Ngawen dan Budi Wibowo di Kalurahan Karangsari Kapanewon Semin. Di beberpa RBR itulah  dilakukan penyemaian berbagai macam bibit resan seperti klumpit, nyamplung , kepuh, beringin, gayam dan bibit pohon resan lainnya.

Dari hasil inventarisasi Komunitas Resan Gunungkidul di beberapa RBR, ribuan bibit resan berbagai jenis telah disemai dan masih dalam tahap perawatan. Adapun material yang digunakan untuk mendirikan RBR ialah bambu, paranet, dan tali. Sedangkan bahan untuk menyemai bibit resan yaitu polibag, kotak kayu, serta media semai yang terdiri dari tanah gembur, pupuk organik padat, dan sekam. Bahan-bahan tersebut mudah didapat di sekitar sumber air. Sedangkan biji-biji resan diperoleh dengan cara mengumpulkan buah pohon resan yang terjatuh di bawah tegakan Nyamplung, Bulu, Beringin, dan Elo.

Bahan-bahan semai dicampur menjadi satu kemudian dimasukkan dalam polibag. Ada dua metode penyemaian yaitu secara langsung dan tidak langsung. Penyemaian secara langsung dilakukan dengan cara memasukan biji kedalam media tanam. Sedangkan cara tidak langsung dilakukan dengan menyemai dahulu biji-biji resan ke dalam papan kayu yang sebelumnya telah diisi media tanam. Setelah biji mulai tumbuh lalu dipindahkan ke polibag yang telah diisi media tanam. Bibit-bibit resan yang telah disemai selanjutnya dipelihara dengan cara disiram secara berkala. Harapannya, bibit-bibit resan siap ditanam pada musim hujan mendatang.

Alon ning terus. Semangat sedulur! Saka niat dadi tekad, saka tekad dadi ikhtiar. Saka ikhtiar muga manfaat. Sak anane sing penting semangate”, begini semboyan-semboyan yang didengungkan oleh para anggota Komunitas Resan Gunungkidul untuk membangkitkan semangat berdirinya RBR.

[oleh Eko Sujatmo]

Tinggalkan Balasan