Nyebar Godhong Kara . . .

Resan Gunungkidul

"gegandhengan-rerentengan gugur-gunung sambat-sinambatan" menjaga dan melestarikan "resan" (pohon penjaga), sumber-air (kali, sendang-sumber, beji, sumur, telaga dan keluarganya), gunung-goa, satwa, serta unsur kebumian dan ilmu pengetahuan Gunungkidul lainnya
SALAM-RESAN SALAM-LESTARI!

WAYANG RESAN

Anggoleki wewayanganing priyangga

Akar kata {wayang} sejajar dengan bayang. Wayang adalah seni bayang-bayang: bayang-bayang (cerita) manusia, bayang-bayang realitas alam dan segala isiannya. Wayang diwariskan oleh leluhur purwa Nusantara sebagai “kitab manusia” (manuskrip) yang menuturkan ajaran moral kehidupan antar berbagai golongan kehidupan, baik dewa-manusia-raksasa-makhluk halus, para penjaga langit-gunung-hutan-laut, maupun manusia-tumbuhan-hewan. Wayang Purwa adalah wayang yang menceritakan narasi-narasi purwa/purba, menginformasikan nilai secara simbolik melalui tokoh dan alurnya. Wayang Purwa berpusat pada ‘kayon’ atau kayuan, yakni pohon suci atau pohon kehidupan. Geometri kayon adalah gunungan, maka kayon juga disebut gunungan. Kayon atau gunungan tak lain adalah ‘wreksa gung susuhing angin”, atau bila disimplifikasi: ”resan”.

Resan adalah penjaga, yang diturunkan dari akar reksa dan sejajar dengan pembentukan kata kerja: ngreksa (menjaga). Resan merujuk juga pada wreksa yang berarti pohon, atau wreksan yang berarti pepohonan. Resan lazim menempati tempat spesial di dusun atau desa, di dekat sumber air kehidupan, sebagai situs sejarah, sebagai tempat tinggal bibit kawit atau pamong bumi dan habitat aneka satwa. Dialek-harian menurunkan wreksan menjadi resan. Pohon-pohon yang tergolong ‘resan’ menjaga cerita tutur tentang mitos, legenda, juga fabel yang hidup di tengah masyarakat dusun-desa, melindungi situs sejarah dan sumber air serta lahan pertanian yang berada di sekitarnya.

Wayang Resan adalah produk budaya yang diciptakan oleh Resan Gunungkidul, khususnya oleh Bleg Bleg Thing, bertipe Wayang Purwa, sebagai wahana ekspresi seni dan jalan pencarian personalitas-komunalitas para pegiat Resan Gunungkidul, dalam kerangka besar konservasi lingkungan berbasis komunitas dan kebudayaan. Seperti halnya beraneka unsur kebudayaan (bahasa, seni, upacara, dsb.) yang golong-gilig saling memadu satu sama lain, berbagai unsur pendukung kehidupan (resan, sumber air, manusia, hewan, tumbuhan, pertanian, teknologi,…) pun tertali menjadi satu. Babad, legenda, fabel, dan mitos lokal mewariskan khasanah ilmu pengetahuan yang kompleks dan justru bisa menawarkan alternatif jawaban atas permasalahan-permasalahan manusia (pos)modern semacam perubahan iklim, mis-manajemen sumber daya lingkungan, degradasi lingkungan, agresi kekuasaan dan pikiran manusia terhadap alam, dan sebangsanya. Wayang Resan mencoba mewadahinya: menjadi ajang dialog bagi siapapun dan apapun yang berkeinginan untuk menemukan dan menyatu dengan bayang-bayang alam, yakni bayang-bayangnya sendiri.

Wayang Resan “Situganda”

Wayang Resan Situganda merupakan lakon wayang resan yang diciptakan pertama kali. Situ adalah sumber air; ganda adalah bau. Lakon ini mengisahkan pencarian air suci kehidupan oleh seorang pemuda petani dari daerah Girisuba di Pegunungan Selatan (Sasra Arga) ke Belik Girang di tepi Kali Oya di Alas Basangen wilayah Ledhoksari untuk memakmurkan wilayahnya yang tandus, hingga akhirnya menyatu dengan Puspaperwita yakni hakekat kemuliaan air suci Belik Girang. Keduanya lestari menjadi penjaga sumber air.

Sinopsis Wayang Resan Situganda

Tlaga ramya kinêpung gunung, karêksaka kajêng kuya ga. Hong…! Sêkar Wungu bangbang abiru, nawur tala lir tilamsari. Hong…! Raksiranya girigriha, madhas mèrèng guha tapagra. Hong…! Kêmbang karang pahyas plataran, crêmin cêpuri tarnigara. Hong…!

[Telaga indah dikepung gunung-gunung, dilindungi pohon-pohon besar. Oh, Sesembahanku….! Bunga (pohon) wungu merah-kebiruan (warnanya), menebari bumi bagai tempat tidur (sang putri). Oh, Sesembahanku….! Di sisi selatannya ada rumah (di gunung), menempati batuan padas dan pereng (di dekat) goa pertapaan (di gunung). Oh, Sesembahanku…! Bunga karang penghias halamannya, hiasan pagarnya bunga matahari (tepi pantai). Oh, Sesembahanku…!]

Dahulu kala di suatu masa purwa, di Pegunungan Ardi Kidul atau  Dhaksina Arga, tepatnya di  pinggir Jaladri Kidul di Gunung Batur Selatan di wilayah yang bernama Girisuba, disebutkan oleh Sang Maha Cerita tentang sebuah pertapaan Gedhong Lengis. Ki Ajar Bedhah Sela, seorang ajar sekaligus amongtani wutun, membeberkan ajaran ilmu pertanian dan pranatamangsa kepada siapapun yang berkenan belajar di sana. Jaka Pangreksa, seorang pemuda penuh semangat, berniat menyejahterakan kehidupan di sekitar tempat tinggalnya dengan ‘ngenger’ kepada Ki Ajar.

Ki Ajar memberikan “wewarah” kepada si pemuda demi tergapainya niat Jaka Pangreksa untuk menyejahterakan wilayahnnya. Jaka Pangreksa diminta untuk melaksanakan ‘lelaku teki-teki” mencari Air Suci Situganda ke arah Batur Agung Utara dimana di sisi selatannya terdapat Alas Basangen yang dibelah Kali Oya nan agung. Air Suci terdapat di sebuah sumber air di tepi Kali Oya, yakni petilasan bathari-bathari kahyangan bernama Belik Girang. Belik Girang dijaga oleh Resan Girang. Ditemani panakawan, Kanil (manusia-cacing) dan Pungkring (manusia-garengpung), Kethek Kopyok (manusia-kera), Jaka Pangreksa berangkat mencari Belik Girang untuk mengambil air suci. Peksi Sriti (manusia-burung), cantrik Pertapaan Gedhong Lengis, diminta Ki Ajar mengikuti dari kejauhan perjalanan Jaka Pangreksa.

Wrêksa wana mantêr marta, kosa kurita mbumipala, rêmbuyung ron-rondhon anyongsongi, mahyadwatmika lodaka, Hong…! Sarwa satwa masarjwa, séla swala hrêng-hrêng rêngêng.

[Kekayuan hutan pusat kehidupan, kokoh akarnya (sebagai) pemimpin bumi, rimbun daun-daunnya memayungi, melahirkan (lahir-batin) air-suci. Oh, Sesembahanku….! Aneka hewan bersenang-hati, batu bersuara lirih-pelan.]

Jaka Pangreksa beserta panakawan Kanil dan Pungkring akan memasuki Alas Basangen yang dibelah oleh Kali Oya. Di sela beristirahat bernyanyi menari, tiba-tiba dari lebatnya kekayuan hutan muncul para sato kewan penguasa hutan: macan, kidang, gajah, mencoba melukai mereka. Berkat kepiawaian panakawan para sato kewan berhasil dihalau masuk hutan. Sejurus kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke arah tujuan Jaka Pangreksa, yakni Belik Girang.

Di dalam jantung hutan di tepi Kali Oya, tempat yang terkenal angker bernama Hutan Basangen itu, ada sebuah belik kecil yang mengalirkan air bening bagai kaca. Di sanalah air suci Situganda memancar dari bawah Pohon Girang. Pohon Girang nan agung menaungi kanan-kirinya, melahirkan namanya.

Wêninging wé wiwara wawrat wingit, wadana lumêwu êninging budi, paturun palawija palawiji.

[Bening air (adalah) gapura yang menyimpan kegaiban, perwajahan (papan) masuk ke palung ilmu pengetahuan, penurun benih-benih kehidupan.]

Canthaka Birawa, raksasa-katak, dan Mina Pranjala, raksasa-lele, adalah abdi raseksi bernama Puspa Girang. Puspa Girang telah menjaga dan menguasai Belik Girang beserta isinya sekian ratus warsa. Tugas mereka memukul balik orang-orang yang berniat buruk di Belik Girang.

Jaka Pangreksa dan para panakawan tiba di Belik Girang. Tanya-jawab terjadi antara Puspa Girang dan Jaka Pangreksa beserta panakawan. Jaka Pangreksa mengutarakan maksud kedatangannya: meminta air suci kepada Sang Raseksi penjaga. Ternyata tidak segampang membalik telapak tangan, Si Raseksi mengancam membunuh Jaka Pangreksa dan para panakawan jika berani mengambil Air Suci Situganda di Belik Girang.

Peperangan terjadi antara Canthaka Birawa dan Pungkring. Keajaiban terjadi, setelah peperangan sengit memuncak, sekejap mata mereka berdua berubah wujud ke bentuk asli mereka. Canthaka Birawa berubah menjadi seekor katak. Ia dulu selalu memimpin keluarganya bergembira bernyanyi di genangan air hujan. Pungkring beralih rupa menjadi hewan garengpung. Dulu kehadiran ia dan keluarganya menjadi penanda musim penghujan. Turunnya air hujan disambut nyanyian mereka.

Sementara itu Mina Pranjala bertempur melawan Kanil. Mereka pun berubah ke wujud aslinya. Mina Pranjala menjelma ikan lele, sedangkan Kanil menjadi cacing. Meskipun keduanya adalah seteru abadi, namun pertentangan mereka mampu menghasilkan kesuburan tanah. Raseksi Puspa Girang berperang melawan Jaka Pangreksa. Jaka Pangreksa sedang melaksanakan laku suci mencari air suci. Puspa Girang juga melakukan tindakan suci menjaga sumber air suci. Maka, peperangan keduanya adalah perang suci. Perang suci melahirkan pernikahan dan buah suci.

Telah menjadi ketentuan Sang Maha Cerita, Puspa Girang yang berwujud raseksi berubah menjadi bidadari cantik bernama Puspa Perwita. Kelak Puspa Perwita hidup abadi menjadi kebaikan di dalam air. Jaka Pangreksa berubah wujud menjadi Iwak Sidhat yang selama-lamanya tidak bisa berpisah dengan “situ” (sumber air) dan “ganda” (bau air). Kelak kemudian hari Iwak Sidhat menjadi ‘pangreksa’ sumber air. Sementara waktu, Iwak Sidhat kembali ke pesisir Girisuba di pinggir Jaladri Kidul, tempat asalnya, untuk bertelur dan berkembang biak. Kelak ia pasti akan kembali.

Ki Ajar Bedhah Sela dan para sato kewan mengetahui dan menyaksikan semua peristiwa di Alas Basangen itu. Atas petunjuk Ki Ajar Bedhah Sela para sato kewan berpencar ke berbagai penjuru Ardi Kidul yang di kemudian hari melahirkan cerita mitologis di wilayahnya masing-masing. Burung Sriti terbang ke arah Batur Agung utara, melahirkan sejarah wilayah Sriten. Macan menuju arah timur laut Ardi Kidul, menjadi dongeng turun-temurun di sana. Kidang menuju pegunungan karang arah tenggara, juga menjadi legenda masyarakat sana. Wanara pergi ke arah barat daya, tinggal dan menunggui beberapa pegunungan hutan. Gajah Oya dipersilakan oleh Ki Ajar menjaga hutan lebat di tengah Ardi Kidul yang sejak purwa dibelah kali agung. Kali agung itu mengular jauh hingga Jaladri Kidul (Dark Green Sea). Namanya lestari hingga masa-masa berikutnya: Nadi Oya atau Bengawan Oya atau Kali Oya.

Tokoh-tokoh Wayang Resan Situganda

Kayon

Klowong

Canthaka Birawa (Raksasa Katak)

Ki Ajar Bedhah Sela

Kanil – Manusia Cacing

Gajah Oya

Kethek Kopyok – Manusia Kera

Jaka Pangreksa

Manuk Sriti

Sidhat

Puspa Perwita

Puspa Girang

Pungkring

Mina Pranjala

Singa Gembong

Tokoh-tokoh Situganda

Pementasan Wayang Resan Situganda

Wayang Resan Situganda kala pentas di Pekan Climen Rebowagen
Wayang Resan Situganda kala pentas di Kedhung Wanglu
Wayang Resan Situganda kala pentas di Libstud Jakal 14: Maknani Sumeleh
Wayang Resan Situganda kala pentas di Acara Jogja Art Books Festival
Wayang Resan di Belik Girang, Kali Oya, Hutan Wanagama

Rahayua Wayang Resan! Dirgahayua!

_/\_